"si Ucrit", nama ini saya berikan kepada sepeda Mini berkeranjang ukuran ban 24" yang dibeli sekitar bulan Oktober 2010 dengan harga Rp.225.000,- di bengkel dalam keadaan penuh debu, sepertinya lama disimpan di gudang oleh pemilik lamanya. Setelah deal harga dengan pakDe' [sapaan bapak bengkel], siUcrit pun saya bawa ke kontrakan.
Setibanya di kontrakan, melihat kondisi yang sangat memprihatinkan, saya bersihkan dan mempretelinya dengan peralatan seadanya, setelah sudah terlihat bersih dan kinclong kemudian dibangun kembali [lihat poto sebelah: gayanya sudah mirip tukang bengkel sepeda belum..?? hehe]. Maklum masih amatiran, membangun kembali sepeda ini perlu perjuangan dan waktu yang lumayan lama juga, tapi Alhamdulillaah dapat diselesaikan dengan setingan alakadarnya sampai bisa digowess. Tidak disangka, ternyata setelah di bersihkan terlihat sangat-sangat asik, unik dan menarik.
Tahun 2003 saya mulai menginjakkan kaki dan hidup di IbuKota [padahal Aslinya mah tinggal daerah di Ciputat, Tangerang Banten, hahaay..]. Pada awal-awal masih baru, banyak yang bilang "Mau bertahan hidup di Jakarta ? Jangan Gengsi-an", pesan singkat yang lumayan simple tapi dalam. Pesan ini seperti menggelitik benak saya dalam bersepeda, di tengah berbagai macam alasan menggunakan sepeda sebagai alat transportasi di Jakarta baik yang beralasan untuk menghemat pengeluaran keuangan, isu global warming, hobby, efisiensi waktu dan lain sebagainya. Namun demikian, sepeda yang digunakan untuk beraktivitas disesuaikan dengan keuangan dan selera masing-masing, mulai dari sepeda lipat, MTB, Onthel, Fixgear dan lain sebagainya.
Begitupun dengan saya, sepeda pertama kali punya adalah sepeda BMX dengan harga Rp.50.000,- dibeli dari teman pada bulan Puasa tahun 2009, sepeda itu dibeli karena waktu sepeda BMX punya temen saya pinjam untuk keliling muter ke arah Kp.Utan-Rempoa-Gintung dengan niat cari lapak sepeda siapa tau ada sepeda yang harganya murah meriah, berhubung waktu itu adalah malam hari, mana ada bengkel/lapak sepeda yang buka, apalagi malam bulan puasa [aneh juga saya ini yaa..hihi :D]. Sebelum saya pinjam, kondisi sepeda BMX itu memang pada bagian fork/garpunya sudah oblak seperti mau patah, dan benar saja kejadian waktu di daerah Rempoa garpu/fork nya patah, mana malam hari tidak ada bengkel akhirnya mau tidak mau sepeda saya tuntun dari Rempoa Gintung sampai kosan daerah kampus UIN. Besoknya laporan sama yang punya sepeda bahwa fork sepedanya patah dan saya akan menggantinya, tapi ternyata yang punya malah bilang "ga usah diganti, biar dikilo saja sama tukang barbek", mendengar seperti itu saya merasa tidak enak dan lebih baik saya beli saja, singkat cerita akhirnya temenku menjual sepeda BMX yang patah forknya itu dengan harga Rp.50.000,-. Sepedapun saya perbaiki dan bahagia rasanya punya sepeda sendiri meski apa adanya, sempat dibawa jalan-jalan ke Pantai Ancol dan CarFreeDay Sudirman-Thamrin. Namun apa mau di kata, pada awal tahun 2010 sepeda BMX hitamku raib entah kemana yang pasti ada yang mengambil alih kepemilikan dan sejak kehilangan itu saya pun puasa tidak bersepeda selama beberapa bulan, kalau mau sepedahan yaa pinjam sama teman sampai akhirnya saya kembali punya sepeda yang baru.
Hampir dua bulan setelah kehilangan sepeda BMX hitam, akhirnya kembali punya sepeda jenis MTB lowend tapi lumayan masih bisa untuk digowess kemanapun suka dan sepeda ini menjadi angkutan mudik lebaran Jakarta-Tasik Tahun. 2010 [poto disebelah ini waktu Mudik pertama kali Jakarta-Tasik via Garut]. selain sepeda MTB, ada sepeda ukuran 24" Dragster disusul si Ucrit dan yang lainnya, [hilang satu tumbuh seribu] begitu kira-kira, hehe.. Meski demikian, saya bukan kolektor sepeda antik karena sepeda yang ada hanya sepeda biasa, terkadang kalau sedang butuh untuk bayar kosan, sepeda yang ada saya jual. #curcol deh
Di antara sepeda yang ada, walaupun si Ucrit seperti sepeda untuk belanja ke pasar, ukurannya kecil 24" dan singlespeed namun ada sesuatu yang beda dan istimewa, [istimewa menurut saya, belum tentu menurut anda...hihi]. Tidak jarang temen sepedahan melihat saya dengan siUcrit bilang "mau belanja/kepasar/itu kan sepeda cewek, dll", sah-sah saja apa kata mereka dan mungkin itulah sebagai ungkapan perhatian [perhatian sama sepedanya..bukan sama yang punya sepeda tentunya..hihi], tidak apa-apa koq, toh saya pun tidak merasa diapa-apakan yang penting tidak sampai mencederai saya, mungkin lain ceritanya [pasti saya nangis..ahahaa :p].
Aaahhh...beruntung sekali saya, kehadiran siUcrit memberikan warna dalam hidupku, suka-duka berbagi cerita telah dilewati bersama. Tiada kalimat yang patut diucapkan selain ucapan syukur Alhamdulillaahirobbil 'Aalamiin..bersyukur dan ikhlas, begitu banyak nikmat yang diberikan oleh-Nya dengan memiliki siUcrit.
Di tengah bergeliatnya kembali dunia pesepedahan di Jakarta, bermacam jenis, tipe, harga sebuah sepeda memberikan pilihan bagi para pesepeda baik itu yang baru memulai bersepeda maupun yang sudah lama hobi bersepeda. Sepeda apapun ada, mulai dari jenis sepeda komuter/untuk sehari-hari sampai sepeda hobi maupun untuk prestasi tersedia, yang harganya sesuai dengan kualitas. Mulai dari pabrikan lokal sampai pabrikan luar negeri pun berminat untuk menjadikan Indonesia sebagai pasar yang sangat potensial.
Dari sepeda yang saya punya, hanya satu sepeda yang saya beli dengan kondisi Baru [sepeda MTB WimCycle Roadchamp DX], selain dari itu semuanya sepeda bekas alias second, termasuk siUcrit. Entah kenapa alasannya lebih suka sama sepeda lama atau sepeda bekas. Mungkin karena kondisi keuangan yang masih terbatas, entah karena melihat kualitas, entah karena lebih melihat dari sisi fungsi sepeda atau memang karena lebih suka melihat keunikan dari sepeda bekas, entahlah..[tapi, alasan yang pertama mungkin agak lebih utama..alasan Keuangan..hihi :D]. Sadar diri, bukannya tidak ingin memiliki sepeda yang baru dengan tipe terbaru yang komponen serba canggih, tapi apa daya belum cukup untuk bisa memilikinya. Dan akhirnya memutuskan diri untuk lebih kepada fungsi dari sepeda itu sendiri, toh saya bukan sembalap yang mengharuskan memiliki sepeda dengan performa yang menunjang. Punya sepeda juga paling dipakai untuk belanja ke warung, beli nasi, ke tempat teman atau sekedar rekreasi ke tempat wisata.
Seringnya melihat teman sepedaan yang bersepeda bersama berpetualang blusukan keluar masuk perkampungan, ada juga yang gowess ke tempat wisata yang jaraknya lumayan jauh dari jakarta seperti ke daerah Bogor kayaknya asik dan seru. Lagi-lagi membuatku berfikir berkali-kali, mungkinkah siUcrit bisa dibawa rekreasi atau piknik ke tempat wisata yang di daerah Bogor itu tempatnya kebanyakan di atas ketinggian, harus menempuh jalan kampung blusukan dan tanjakan yang tidak mudah untuk dilewati dengan sepeda yang hanya singlespeed ??
Muncul pertanyaan, kenapa tidak mencoba dulu yaa ??
Kalau capek yaa berhenti sebelum capek [jangan sampe nunggu mata berkunang-kunang baru istirahat..], kalau tidak kuat ditanjakan yaa didorong atau istirahat dulu cari warung ngopi/ngeteh dulu, kalau takut di turunan yaa dituntun daripada nyuksruk, kenapa juga harus maksain, lagian tidak ada peraturan yang mewajibkan harus terus digowess dan juga tidak ada larangan untuk menuntun/mendorong sepeda ditanjakan, kalau tanjakannya mau dibeli juga bisa saja sih, tinggal sepedanya dinaikin ke angkot/pick up sampai atas, selesai deh urusan. Intinya adalah yang penting bagaimana caranya bisa Menikmati perjalanan sampai ke tempat tujuan dan kembali ke rumah dengan Selamat wal'Afiat dan Bahagia. Hmmm..iya juga yaa..hihi [maap, ini hanya ngobrol sendiri saja].
Sampai kepada pertanyaan selanjutnya:
Sampai kepada pertanyaan selanjutnya:
"...Kalau kebanyakan mikirin spek grupset sepeda, kapan gowessnya..."
Merujuk pada pertanyaan dan obrolan sendiri itu, rumus di atas [rumus ngga jelas teorinya] di ulang-ulang sampai hafal [kayak mau ujian nasional saja pake di hafal segala..hmm terlalu lebay kadang], dari sini maka dimulailah perjalanan bersama siUcrit:
[] Dongeng #1 []
Piknik ke Curug Nangka Bogor
Suatu hari, tepatnya pada hari Raya Idul Adha 2010 berhubung tidak pulang kampung alias lebaran di kosan saja. setelah Solat Ied, daripada diam di kosan nunggu kiriman daging juga ga punya kupon..[haha..kasian deh, nasib anak kost, kalau ada yang kirim daging bersyukur kalau tidak yaa ngga apa-apa]. Lebih baik jalan-jalan gowess santai ke daerah bogor mencoba napak tilas ke daerah Curug Nangka [dulu pernah ke Curug Nangka sama teman" kuliah itu juga naik mobil, rutenya pun inget-inget lupa saking sudah lamanya..emang dasar pelupa sih]. Cuaca waktu itu agak sedikit mendung tapi lumayan waktu gowess jadi adem tidak kepanasan, bermodal niat dan nekad berangkatlah sendirian [awalnya bertiga sama teman, tapi di daerah Kemang Parung mereka balik lagi] akhirnya yaa sendirian. Berangkat dari Ciputat berbekal informasi seadanya selebihnya di jalan tanya sana-tanya sini ke mana jalan menuju Curug Nangka. Memasuki jalan raya Ciapus, ternyata jalan menuju sana sebagian besar nanjak dengan kemiringan dan panjang tanjakan yang bervariasi. Terlanjur sudah niat perjalananpun ditempuh dengan perjuangan yang memang tidak mudah bagi pemula/nyubi seperti saya untuk menapaki tanjakan demi tanjakan. Perlahan namun pasti akhirnya sampai ke Perempatan/Simpangan sebelum Curug Nangka [maap lupa nama daerahnya, pokoknya daerah Ciapus aja],
Teringat waktu bersama teman kuliah, dulu waktu naik angkot pernah berhenti di sini, tapi bingung pun datang..sebenarnya bukan bingung sih, tapi lupa, kemana arah yang harus diambil, kanan-kiri-atau lurus ke atas, mau bertanya tapi malu dan akhirnya dari perempatan itu saya ambil lurus ke atas sampai ke pertigaan, kebetulan di pertigaan atas ada orang dan bertanya ke mana arah menuju Curug Nangka, jawabannya adalah.."ke Curug Nangka mah bukan ke sini, tadi dari perempatan yang di bawah harusnya belok kanan". Gubraaakk...inilah akibat dari "malu bertanya kasasar di jalan" ahahaay. Walhasil dari pertigaan atas saya pun balik kanan turun lagi menuju perempatan tadi dan hujan deras pun turun.. Sambil menunggu hujan reda saya istirahat di pos kamling yang ada di perempatan Ciapus itu, setelah agak reda baru dilanjutkan perjalanan, kirain tanjakannya sudah habis, eehh..masih banyak dan malah tambah tanjak saja, apa mau dikata "nasi sudah menjadi bubur" tinggal kasih daging ayam suwir, ati ampela. kerupuk, kacang, cakuwe, kecap..jadi deh Bubur Ayam Spesial. Begitulah kira-kira...Jalan menanjak, nyasar, kehujanan, yaa dinikmati saja, alon-alon asal kelakon, meski diperjalanan agak sedikit gerimis juga akhirnya Alhamdulillaah sampai juga di Curug Nangka. Sesampainya di Gerbang Wana Wisata Curug Nangka istirahat sebentar, poto-poto, sudah..balik kanan menuju Ciputat kembali.
[] ..Perjuangan menuju Curug Nangka.. []
Perjalanan pertama ke Curug Nangka bersama siUcrit, mendapat semangat dan keyakinan dalam diri bahwa tidak ada halangan bagi siapapun dengan sepeda apapun untuk menikmati sebuah perjalanan kemanapun suka, yang penting berusaha untuk selalu Sabar, Sadar diri [tidak ngoyo/memaksakan] dan Nikmati perjalanan. Belajar peka terhadap kondisi badan kapan harus berhenti istirahat sejenak meski hanya sekedar untuk ambil nafas dan kapan harus lanjut. Tidak harus gengsi atau malu untuk dorong/tuntun sepeda jika memang harus dituntun atau sudah tidak kuat. Kalaupun memang jika sekiranya waktu melintas di tanjakan yang lumayan panjang dan masih bisa/ingin tetap di gowess atau mencoba untuk tidak di tuntun/didorong, mungkin bisa disiasati dengan cara membagi Titik istirahat menjadi 1,2 atau 3 kali berhenti/istirahat di tengah tanjakan untuk kemudian dilanjutkan gowess lagi sampai tuntas tanjakan panjang tersebut. Kira-kira ilustrasinya seperti ini:
[start]----gowes----[1 istirahat]----gowes----[2 istirahat]----gowes----[finis tanjakan]
[] Dongeng #2 []
Tidak seRapuh Tampangnya
Begitu kira-kira trik atau menyiasati tanjakan yang panjang tanpa tuntun bike [TTB] atau didorong heula [DH]. Karena memang, dorong/nuntun sepeda di tanjakan lebih capek daripada gowess santai.
Semoga trik nya bermanfaat dan bisa menikmati setiap perjalanan tanpa tenaga terkuras banyak karena cara gowess yang Maksain atau Ngoyo. :)
[] Dongeng #2 []
Tidak seRapuh Tampangnya
siUcrit memang sepeda kecil terbuat dari besi, terlihat seperti ringkih alias rapuh dan tidak kebayang jika dipakai boncengan atau dipakai sama orang yang bobotnya di atas 80kg mungkin siUcrit pasti akan rontok berantakan berkeping-keping. Suatu hari ada seorang mister dari Brussel namanya Mr.Herman yang sedang berkunjung ke Indonesia bertemu teman komunitasnya di Jakarta sekaligus berkunjung ke tempat-tempat yang bersejarah seperti Museum dan lainnya, usianya di atas 50 tahun dengan berat badan di atas 100kg [kalau tidak percaya boleh tanya atau coba gendong sendiri siMister nya..yasudah, daripada harus gendong mending percaya, lihat saja postur tubuhnya gemuk begitu seperti yang ada di poto..hehehe :D]. Mr. Herman yang perawakannya subur dan kakinya cidera [karena jatuh kl tidak salah], tidak bisa lama berjalan kaki mengelilingi Monas waktu itu, saya yang kebetulan bawa sepeda siUcrit menawarkan agar Mr.Herman untuk naik sepeda saja karena kasihan kalau dia jalan kaki pasti kecapekan dan Mr.Herman pun tidak menolak untuk memakai sepeda, dan akhirnya Mr.Herman gowess sama siUcrit keliling Monas.
Ternyata, sepeda mini yang kelihatannya seperti tubuh rapuh itu bisa bertahan membawa beban di atas 100kg. "Jangan Menilai Buku dari Covernya" [lhoo..koq buku, siUcrit kan sepeda bukan buku...hehe :D] yaa..intinya begitulah kira-kira. :)
Ternyata, sepeda mini yang kelihatannya seperti tubuh rapuh itu bisa bertahan membawa beban di atas 100kg. "Jangan Menilai Buku dari Covernya" [lhoo..koq buku, siUcrit kan sepeda bukan buku...hehe :D] yaa..intinya begitulah kira-kira. :)
[o] BERSAMBUNG [o]
@ana_ucrit
Salam SEPEDA SEnyumPEnuhDAmai untuk semuanya...:)
[] Aku Cinta Indonesia []



Tidak ada komentar:
Posting Komentar